Pernahkah terpikirkan mengapa kehadiran bayi selalu menyenangkan bagi (hampir) semua orang? Saya menggunakan kata “hampir” dalam kurung karena memang ada pengecualian bagi orang-orang yang melakukan kejahatan pada bayi seperti menyiksa atau membunuh dimana saya menyebutnya minoritas. Namun, pokok pembahasan tulisan ini bukan pada minoritas melainkan mayoritas pemikiran bahwa bayi adalah makhluk yang menyenangkan.
Mengapa bayi menyenangkan? Karena itu anak anda? Karena anak teman anda? Karena anak sepupu atau anak rekan atau anak bos? Tidak juga. Karena kenyataan membuktikan seseorang bisa juga menyukai bayi-bayi yang tidak memiliki hubungan darah dengan mereka bahkan seseorang bisa juga menyukai bayi-bayi yang baru mereka temui dalam hitungan detik. Silakan buktikan perkataan saya sekarang, dengan mengingat apakah diri anda atau orang-orang yang anda kenal hanya tersenyum dan bercanda pada bayi yang anda kenal saja orangtuanya?
Jawabannya pasti tidak. Menurut pendapat saya, kita tidak pernah bisa memilih kepada bayi-bayi mana saja kita mampu mengatur emosi dan perasaan bahagia yang muncul saat berinteraksi dengan mereka. Sekarang kita sama-sama setuju bahwa kita bisa secara spontan menyukai kehadiran bayi tanpa harus memiliki keterikatan batin atau memori apapun dengan bayi itu sebelumnya. Jika ada yang berpendapat “Saya hanya suka kepada bayi yang lucu” maka pendapat tersebut tidak dapat dijadikan patokan karena pendapat lucu tidaknya bayi sangat relatif dan jika ditanya ke 100 orang mengenai tingkat kelucuan seorang bayi, maka bisa saja kita menemukan 100 jawaban yang berbeda tingkatannya.
Lalu apa yang membuat kita secara spontan menyukai bayi? Di luar faktor ikatan darah atau hubungan kekeluargaan, faktor waktu kenal dengan bayi tersebut maupun faktor mayoritas pendapat bahwa bayi tersebut lucu?
Berdasarkan hasil pengamatan saya, ada hal yang sangat dominan di diri setiap bayi dan hal tersebut membentuk satu persepsi yang kuat bagi setiap orang yang melihatnya. Bayi mengkomunikasikan hal yang membuat orang- orang bisa jatuh hati, tersenyum, merasa bahagia, merasa tenang dan ikut berbicara dengan bahasa yang tidak ada kosakatanya di kamus manapun. Saat bayi mengajak orang-orang di dekatnya ‘berbicara’ maka tidak ada satupun yang memaksa bayi tersebut untuk menggunakan bahasa sehari-hari pada umumnya. Lazimnya orang-orang yang berinteraksi dengan bayi akan menggunakan ‘Bahasa Bayi’.
Bahasa bayi adalah tersenyum, tertawa, menangis saat lapar, tertidur tanpa peduli apapun yang terjadi di sekelilingnya. Bayi adalah makhluk yang apa adanya. Bayi tidak pernah memiliki niat buruk saat bertemu siapa saja. Bayi tidak pernah memilih hanya mau tersenyum dan tertawa dengan si A, si B atau si C. Bayi tidak peduli dengan uang, jabatan, materi dan lain sebagainya. Bayi hanya peduli dengan satu hal, yaitu KASIH SAYANG.
Selain kebutuhan biologis seperti makan, tidur, buang air dsb, kasih sayang adalah hal utama yang diperlukan bayi. Bayi tidak suka kesendirian. Di saat bayi merasa sendiri, dia akan menangis. Seperti anak saya yang menangis saat saya tinggalkan ke dapur. Sembari mendatangi, saya berpikir apakah ada sesuatu yang kurang karena dia sudah mandi dan sudah makan. Saat saya datang dan memeluk tubuhnya yang mungil, seketika tangisnya berhenti. Dia tidak lapar, tidak haus, tidak kepanasan atau kedinginan. Bayi saya ternyata hanya butuh kehangatan ibunya. Dia membutuhkan seseorang memberikan kasih sayang kepadanya dengan cara memeluk tubuhnya.
Kasih sayang merupakan hal yang esensial dalam kehidupan. Kasih sayang adalah hal yang sangat tulus. Ketulusan kasih sayang tidak pernah memiliki pamrih. Saat seseorang memberikan kasih sayang dan kehangatan, orang tersebut tidak akan pernah berpikiran bahwa kasih sayang harus dikembalikan. Kasih sayang membuat dunia ini indah. Kasih sayang adalah bahasa universal yang membuat satu sama lain saling mengerti dan tidak berminat menyakiti.
Dalam hal hubungan kita dengan bayi, kebutuhan kasih sayang ini dikomunikasikan dengan baik oleh para bayi di dunia sampai-sampai kita sulit menolaknya. Keinginan berinteraksi dengan bayi yang lucu sulit ditolak sampai-sampai seorang wanita yang sedang bekerja di bank bisa menghampiri orangtua bayi yang sedang menunggu antrian nasabah untuk hanya sekedar bertanya “Apakah saya boleh menggendongnya sebentar?”. Hal ini terjadi saat saya berada di bank menemani adik saya membuka rekening.
Bayi siapa saja, di mana saja di muka bumi ini adalah makhluk yang sangat positif. Mereka menyebarkan energi positif tersebut dan energi tersebut kembali padanya dalam bentuk kasih sayang. Jika saat ini kita telah mengetahui bahwa kasih sayang adalah bahasa universal yang membuat dunia ini bisa damai, mari kita tumbuhkan kasih sayang yang tulus bagi keluarga dan lingkungan.
Live Happily, Like Babies!